branding
Religion Brand

brand_thumbs
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel Rahmat Susanta (Pimpinan Redaksi Majalah Marketing) dalam rubric Marketingsiana, yang berjudul Brand Religion. Brand religion oleh Rahmat Susanta menjelaskan tentang bagaimana sebuah merek bisa menjadi agama bagi konsumen loyalnya, seperti para penggemar Harley Davidson misalnya. Dari situ saya jadi terpikir, bagaimana kalau di balik menjadi religion brand, tentu artinya jadi berbeda, yaitu sebuah merek yang bercirikan agama.
Dalam lima tahun terakhir perkembangan bisnis dengan latar belakang agama, yaitu Islam kian marak dan menjamur. Meski baru sebatas dibidang perbankan, asuransi, micro finance, hotel (baru ada satu), pendidikan, kesemuanya merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Perkembangan tersebut bahkan mendorong seorang Hermawan Kartajaya dan M. Syakir menerbitkan sebuah buku berjudul Syariah Marketing. Hingga saat ini kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Bank Syariah sebagaimana yang pertama kali dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia, Asuransi Syariah, TK-SD Islam Terpadu, dan lain sebagainya. Maka tidak berlebihan kalau kemudian M. Syafi’i Antonio mengatakan “Spiritual is the Soul of Advance and Integrated Marketing” [lihat tulisan di blog saya tentang ini].
Seiring dengan kesadaran masyarakat Indonesia–yang mayoritas penduduknya muslim—terhadap keharusan menggunakan dan memanfaatkan produk (barang maupun jasa) yang halal dan barokah, maka peran produsen atau perusahaan-perusahaan berbasis syariah menjadi sebuah alternative masa depan yang sangat menjanjikan. Barangkali anda akan mengatakan saya terlalu optimis. Tapi itulah trend yang sekarang sedang menuju ke arah sana.
Jika melihat perkembangan bisnis syariah termasuk juga lembaga-lembaga syariah di negara-negara muslim lainnya seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, Malaysia, bahkan Singapura, Indonesia sudah tertinggal cukup jauh. Tak kalah heboh, Negara-negara Eropa pun kini sedang berpikir untuk membuka unit-unit usaha syariah.
Satu sisi tentang perkembangan itu kita semua patut bersyukur. Namun pada sisi yang lain, kita juga patut waspada. Mengapa? Karena bukan tidak mungkin berbagai variasi produk syariah yang bermunculan saat ini ternyata tidak lebih dari sekedar ‘berganti nama’. Secara paradigmatic sebuah perusahaan bisa saja tetap berpijak pada konsep bisnis sekuler-kapitalistik, tapi di poles dengan polesan syariah atau tepatnya etika Islami, seperti : jujur, amanah dan sejenisnya. Al hasil, yang penting bagi perusahaan itu mendapatkan market share yang menguntungkan di pasar syariah.
Religion brand sebagaimana produk syariah kini, meski mungkin ceruk pasarnya lebih spesifik dan sangat segmented, saya yakin dalam waktu dekat akan menjadi produk yang banyak dibutuhkan oleh semua orang, bukan saja umat Islam. Optimisme ini terbangun dari firman Allah swt :
“Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin”
[Dan tidak Aku utus engkau Muhammad (berupa segala yang dibawa, yaitu Islam, syariah), kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam].
Inilah tantangan kita, khususnya bagi pengusaha muslim untuk membangun peradaban bisnis yang syar’iy. Bukan saja sekedar polesan, tapi juga asas, konsep, manusia, implementasi dan hasil yang benar-benar menampilkan sosok bisnis berbasis syariah yang utuh, unik dan barokah. Inilah religion brand yang sesungguhnya.

6 Responses to Religion Brand

  1. click here says:

    [...]The facts mentioned in the report are a few of the top offered [...]

  2. Pingback: more info here

  3. Pingback: computer information technology

  4. Pingback: {click here

  5. Pingback: obat sakit kanker

  6. Pingback: Obat penyakit Herpes Mulut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>