branding
Personal Brand dalam Paradigma Islam

personal2_thumbs
Merek (brand) dalam dunia usaha sering didefinisikan sebagai persepsi atau emosi yang dipertahankan dan dipelihara yang menggambarkan sebuah pengalaman dari sebuah produk atau jasa pada pelanggannya. Dalam konteks pribadi, sebuah merek merupakan cerminan dari siapa diri Anda sebenarnya serta apa yang Anda yakini.
Dalam paradigma Islam sebuah merek pribadi (personal brand) dibentuk oleh dua unsur penting. Yaitu (1) dari cara dia berpikir untuk menyelesaikan berbagai hal dalam kehidupannya, dan (2) dari cara dia memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan pemikiran yang dihasilkan dari cara dia berpikirnya. Cara berpikir sering disebut dengan istilah aqliyah, dan cara memenuhi kebutuhan hidup dikenal dengan istilah nafsiyah.
Konsep ini muncul dari kenyataan bahwa sesungguhnya setiap perilaku seseorang dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya—sesederhana apapun, sangat dipengaruhi oleh cara dia berpikir dan kaidah dasar (paradigma) yang ia gunakan dalam proses berpikirnya.
Saya awali dari point yang kedua. Senyatanya setiap manusia di dunia ini memiliki dua kelompok besar kebutuhan. Yaitu kebutuhan untuk hidup (bahasa arab, baca: hajat al udlowiyah), seperti : makan, minum, istirahat, buang hajat. Dan kebutuhan naluri (bahasa arab, baca: gharizah), seperti : naluri beragama atau menuhankan sesuatu yang ia anggap kuat (Maha), naluri mempertahankan eksistensi dirinya di tengah manusia lainnya, dan naluri mempertahankan keturunan melalui hubungan seksual.
Nah cara seseorang memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas tadi yang  dilakukan secara konsisten saat berhubungan dengan orang lain, itulah yang akan menunjukkan siapa dia sesungguhnya, sekaligus menunjukkan brand personal seperti apa yang akan terbangun dalam persepsi orang lain. (ingat tulisan saya yang pertama).
Lalu apa kaitannya dengan point pertama, cara berpikir? Pertanyaan bagus !
Seperti yang saya tuliskan di paragraf di atas, “Sesederhana apapun perbuatan seseorang, sangat dipengaruhi oleh cara dia berpikir dan kaidah dasar yang ia gunakan dalam proses berpikirnya.” Artinya, setiap seseorang akan berbuat, pasti ada “mindset” yang mempengaruhinya.
Saya akan ambil sebuah ilustrasi sederhana untuk menjelaskannya. (biasa saya pakai saat menjadi pembicara di diskusi-diskusi). Begini…..Setiap orang butuh makan. Setuju? Oke. Sekarang saya akan tanya pada Anda. Apa yang akan Anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Anda pasti akan jawab bekerja! Betul ?! Problemnya adalah, apakah pekerjaan yang Anda lakukan itu dibumbui oleh korupsi, penipuan, menzalimi orang lain atau akan dilakukan secara jujur dan tidak menzalimi orang lain ? Sekali lagi (pasti) Anda akan jawab, “ Saya jujur dan tidak menzalimi orang lain”. Maka pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang mendasari Anda jujur? Karena semata-mata kemanusiaan dan etika ? Atau karena Anda paham bahwa kejujuran adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya ketidak jujuran dilarang dan diharamkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Jika jawaban Anda yang kedua, saya ucapkan selamat ! Berarti Anda sudah memiliki salah satu ciri personal brand yang khas sebagai seorang muslim sejati. Kenapa begitu? Karena Anda sudah memiliki cara berpikir yang dibangun dari kesadaran keharusan untuk taat pada perintah dan larangan Allah Yang Maha Kuasa yang di aplikasikan saat Anda memenuhi salah satu kebutuhan hidup sebagai manusia. Dan saya yakin ketaatan itu merupakan buah dari keyakinan yang menjadi kaidah dasar Anda berpikir dan berbuat. Keyakinan itulah yang kita sebut Aqidah. Bisa jadi sama-sama jujur, tetapi valuenya berbeda dihadapan Allah lantaran beda cara berpikirnya, beda cara memenuhinya dan beda kaidah yang digunakannya.
Allah swt berfirman:
“…apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh, Allah amat keras hukumannya” [TQS. Al Hasyr: 7]
Perlu kita catat bersama, bahwa setiap kali kita berbuat sesuai dengan apa yang kita pahami dan yakini serta sesuai dengan apa yang orang lain harapkan, maka hal itu akan meningkatkan kekuatan merek (brand) kita di dalam pikiran (persepsi) mereka. Maka kepercayaan pun akan tumbuh.
Dalam konteks kompetisi (baca: fastabiq al khairat), dua kekuatan (aqliyah dan nafsiyah) pembentuk personal brand seorang muslim yang unik itu perlu ditambah dengan satu komponen lagi, yaitu kompetensi (expertise) yang secara konsisten diasah terus menerus. Maka Anda akan menjadi seorang muslim yang benar-benar beda diantara jutaan bahkan milyaran orang lainnya.

Merek (brand) dalam dunia usaha sering didefinisikan sebagai persepsi atau emosi yang dipertahankan dan dipelihara yang menggambarkan sebuah pengalaman dari sebuah produk atau jasa pada pelanggannya. Dalam konteks pribadi, sebuah merek merupakan cerminan dari siapa diri Anda sebenarnya serta apa yang Anda yakini.

Dalam paradigm Islam sebuah merek pribadi (personal brand) dibentuk oleh dua unsur penting. Yaitu (1) dari cara dia berpikir untuk menyelesaikan berbagai hal dalam kehidupannya, dan (2) dari cara dia memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan pemikiran yang dihasilkan dari cara dia berpikirnya. Cara berpikir sering disebut dengan istilah aqliyah, dan cara memenuhi kebutuhan hidup dikenal dengan istilah nafsiyah.

Konsep ini muncul dari kenyataan bahwa sesungguhnya setiap perilaku seseorang dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya—sesederhana apapun, sangat dipengaruhi oleh cara dia berpikir dan kaidah dasar (paradigma) yang ia gunakan dalam proses berpikirnya.
Saya awali dari point yang kedua. Senyatanya setiap manusia di dunia ini memiliki dua kelompok besar kebutuhan. Yaitu kebutuhan untuk hidup (bahasa arab, baca: hajat al udlowiyah), seperti : makan, minum, istirahat, buang hajat. Dan kebutuhan naluri (bahasa arab, baca: gharizah), seperti : naluri beragama atau menuhankan sesuatu yang ia anggap kuat (Maha), naluri mempertahankan eksistensi dirinya di tengah manusia lainnya, dan naluri mempertahankan keturunan melalui hubungan seksual.

Nah cara seseorang memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas tadi yang  dilakukan secara konsisten saat berhubungan dengan orang lain, itulah yang akan menunjukkan siapa dia sesungguhnya, sekaligus menunjukkan brand personal seperti apa yang akan terbangun dalam persepsi orang lain. (ingat tulisan saya yang pertama).

Lalu apa kaitannya dengan point pertama, cara berpikir? Pertanyaan bagus !Seperti yang saya tuliskan di paragraf di atas, “Sesederhana apapun perbuatan seseorang, sangat dipengaruhi oleh cara dia berpikir dan kaidah dasar yang ia gunakan dalam proses berpikirnya.” Artinya, setiap seseorang akan berbuat, pasti ada “mindset” yang mempengaruhinya.
Saya akan ambil sebuah ilustrasi sederhana untuk menjelaskannya. (biasa saya pakai saat menjadi pembicara di diskusi-diskusi). Begini…..Setiap orang butuh makan. Setuju? Oke. Sekarang saya akan tanya pada Anda. Apa yang akan Anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Anda pasti akan jawab bekerja! Betul ?! Problemnya adalah, apakah pekerjaan yang Anda lakukan itu dibumbui oleh korupsi, penipuan, menzalimi orang lain atau akan dilakukan secara jujur dan tidak menzalimi orang lain ? Sekali lagi (pasti) Anda akan jawab, “ Saya jujur dan tidak menzalimi orang lain”. Maka pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang mendasari Anda jujur? Karena semata-mata kemanusiaan dan etika ? Atau karena Anda paham bahwa kejujuran adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya ketidak jujuran dilarang dan diharamkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Jika jawaban Anda yang kedua, saya ucapkan selamat ! Berarti Anda sudah memiliki salah satu ciri personal brand yang khas sebagai seorang muslim sejati. Kenapa begitu? Karena Anda sudah memiliki cara berpikir yang dibangun dari kesadaran keharusan untuk taat pada perintah dan larangan Allah Yang Maha Kuasa yang di aplikasikan saat Anda memenuhi salah satu kebutuhan hidup sebagai manusia. Dan saya yakin ketaatan itu merupakan buah dari keyakinan yang menjadi kaidah dasar Anda berpikir dan berbuat. Keyakinan itulah yang kita sebut Aqidah. Bisa jadi sama-sama jujur, tetapi valuenya berbeda dihadapan Allah lantaran beda cara berpikirnya, beda cara memenuhinya dan beda kaidah yang digunakannya.

Allah swt berfirman: “…apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh, Allah amat keras hukumannya” [TQS. Al Hasyr: 7]
Perlu kita catat bersama, bahwa setiap kali kita berbuat sesuai dengan apa yang kita pahami dan yakini serta sesuai dengan apa yang orang lain harapkan, maka hal itu akan meningkatkan kekuatan merek (brand) kita di dalam pikiran (persepsi) mereka. Maka kepercayaan pun akan tumbuh.

Dalam konteks kompetisi (baca: fastabiq al khairat), dua kekuatan (aqliyah dan nafsiyah) pembentuk personal brand seorang muslim yang unik itu perlu ditambah dengan satu komponen lagi, yaitu kompetensi (expertise) yang secara konsisten diasah terus menerus. Maka Anda akan menjadi seorang muslim yang benar-benar beda diantara jutaan bahkan milyaran orang lainnya.

6 Responses to Personal Brand dalam Paradigma Islam

  1. Pingback: oxycontin

  2. You have amazing writing skills! Your article content is eye-opening, smart, well-written and accurate where I’m concerned. This informational article is a virtually perfect example of quality writing. Thank you.

  3. Pingback: sepatu golf adidas

  4. Your article content is eye-opening, smart, well-written and accurate where I’m concerned. This informational article is a virtually perfect example of quality writing. Thank

  5. Well written and a good effort

  6. Gusti Hamdan says:

    Bahasa yang sangat santun, menenangkan, sangat ilmiah namun religius.
    Pemakaian kata-katanya tidak emosional, sangat menyejukkan.
    Finally, saya ketagihan membaca tulisanny pakBey :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>